Masuk
dapur rekaman? Hmm.terdengar menyenangkan. Apalagi bagi mereka yang senang
menyanyi dan bermain musik, dan terutama lagi bagi mereka yang berkarier di
dunia musik. Asyik dan seru itu pasti. Hanya saja, perlu kita ketahui, proses
rekaman terutama rekaman komersial sungguh menguras pikiran, energi, dan
waktu.
Saya ingin sedikit berbagi tentang proses rekaman komersial secara umum (bukan hanya rekaman gitar solo). Dari awal sampai jadinya sebuah album rekaman yang bisa dijual, dibeli, dan dinikmati.
Saya ingin sedikit berbagi tentang proses rekaman komersial secara umum (bukan hanya rekaman gitar solo). Dari awal sampai jadinya sebuah album rekaman yang bisa dijual, dibeli, dan dinikmati.
1). Tahapan
paling awal adalah menyiapkan materi. Dan ini berarti ada proses penciptaan
lagu termasuk pula proses pembuatan aransemen musik (bila memainkan lagu yg
sudah ada). Penciptaan segala sesuatu itu membutuhkan pemikiran yang dalam.
Seperti halnya produk-produk lain (obat, pasta gigi, majalah, handphone, sabun
cuci, untuk menciptakan sebuah produk umumnya diperlukan riset yang panjang dan
rumit sebelum akhirnya bisa diproduksi.dan dipasarkan secara luas.
Dalam bidang seni (apa pun jenis
seni-nya), proses penciptaan bisa jadi lebih kompleks. Mungkin dibutuhkan
suasana hati yang sesuai, berbungkus - bungkus rokok, bahkan ada karya seni
indah yang baru tercipta setelah sang pencipta mengalami dan merasakan
penderitaan akibat suatu tragedi. Oke-lah, katakan akhirnya kita berhasil
menciptakan satu lagu atau gagasan aransemen. Itu baru satu. Sedangkan untuk
sebuah album, umumnya diperlukan belasan lagu. Semakin banyak lagu yang
tercipta, semakin banyak pula pilihan kita dalam menentukan mana yang terbaik
untuk masuk ke dalam album kita. Untuk tahapan ini, waktu yang diperlukan bisa
sangat lama. Dari jangka berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun.
2). Akhirnya setelah sekian lama kita
berkutat di proses penciptaan, materi pun telah siap. Bagi yang punya modal,
bisa langsung sewa studio rekaman dan memulai proses rekam. Namun tidak semua
seniman seberuntung itu. Banyak cerita musisi yang begitu sulit mendapatkan produser yang mau memproduksi karya
mereka. Band-band papan atas yang kita sekarang pun, umumnya pernah mengalami
banyak penolakan oleh perusahaan rekaman. Susahnya perjalanan untuk bisa masuk
studio rekaman ini terkadang bisa membuat frustasi
dan down bagi musisi atau seluruh personel band.
3). Katakanlah, akhirnya kita
berhasil mendapat perusahaan rekaman yang mau memproduksi karya kita. Kita
sudah berlatih habis-habisan untuk mempersiapkan diri. Di sini perjuangan
berikut dimulai. Bagi yg punya grup band dan sudah sering berlatih, proses
rekaman tidaklah sama dengan show di panggung atau di video klip di mana
seluruh musisi main (atau mengiringi penyanyi). Karena di studio, proses
rekaman dilakukan per instrumen --dan biasanya vokal yg terakhir. Perkecualian
adalah rekaman dari sebuah live show yang menuntut persiapan teknis dan
kerumitan penataan suara yang lebih canggih.
Proses
dimulai dengan persiapan partitur dan menentukan tempo yang tepat. Lalu
penyetingan suara untuk instrumen musik (seperti check sound di
panggung) setelah itu baru mulai satu per satu. Biasanya instrumen bas yang
mulai lebih dulu. Lalu baru drum dan
seterusnya. Setiap instrumen membutuhkan waktu 1 sampai 3 hari untuk
menyelesaikan satu album. Ini pun sangat tergantung
pada kesiapan sang musisi. Bila ia sudah berlatih sebelumnya, maka waktu sewa
studio akan lebih singkat. Biaya pun dapat dihemat.
Hasil
rekam suara per instrumen biasa sebut dengan satu track. Untuk sebuah grup
musik, agar mendapat hasil yang maksimal umumnya memerlukan puluhan track.
Untuk drum misalnya, memerlukan beberapa track sekaligus karena setiap elemennya
(kick, tam, snare, hi-hat, symbal, dll) direkam dengan mikrofon yang berbeda.
Solo gitar seperti album saya hanya memerlukan satu track. Namun bila saya
hendak menambahkan bunyi instrumen lain, tentu diperlukan lagi track baru.
Waktu yang
diperlukan untuk merekam seluruh instrumen hingga habis satu album sangat lama.
Patokan yang lebih akurat adalah shift rekaman studio. Satu shift adalah
6 jam. Untuk solo gitar seperti album saya pertama, saya menghabiskan 5 shift
rekaman. Pada album kedua 6 shift karena jumlah lagu lebih banyak. Sebuah grup
band yang saya kenal memerlukan waktu untuk rekaman saja sebanyak 40 shift! Itu
pun dengan catatan lagu dan aransemen sudah siap sebelum rekaman dimulai.
Jumlah ini bisa lebih besar atau kecil tergantung dari jumlah instrumen yang
akan direkam dan juga tingkat kerumitan lagu-lagunya.
Saat
rekaman berlangsung, bisa saja terjadi pengulangan rekam untuk mendapatkan
hasil paling sempurna. Pendeknya, diupayakan agar hasil rekam sesempurna
mungkin dengan kesalahan sesedikit mungkin. Dari semua prosese rekam, vokal
manusia paling sulit dibanding instrumen musik lain. Instrumen musik umumnya
sudah memiliki nada yang pasti. Namun vokal amatlah sensitif. Mengatur pita
suara memerlukan keterampilan dan latihan yang intens. Bagi yang jago menyanyi
atau penyanyi profesional sekalipun dapat mengalami kesulitan dalam proses
rekaman di studio yang begitu detail. Berbeda
dengan benyanyi di panggung, di studio rekaman, fals sedikit pun akan
terdengar dan proses rekam harus diulang berkali kali.
4). Akhirnya setelah berminggu-minggu
atau berbulan-bulan, proses rekaman pun selesai. Para operator studio dan
personel band bisa berteriak gembira "Yess! Kita akhirnya jadi
artis...." begitu mungkin teriak anda dan reman-teman. Tunggu dulu. Perjalanan
belum selesai. Hasil rekaman harus melewati dulu proses mixing. Ibarat
makanan, hasil rekaman kita masih sebatas menyediakan bahan-bahan baku dan
bumbu. Mixing adalah proses memasaknya hingga menjadi makanan yg lezat. Di sini
sang koki (sound engineer) yang menentukan berapa banyak tiap bahan
diperlukan, dan berapa banyak garam atau terasi, untuk setiap jenis masakan.
Proses
mixing menentukan enak tidaknya lagu ini terdengar
di kuping kita. Misalnya, apakah
suara gitarnya pas, tidak terlalu keras dibanding vokal. Atau apakan suara bas
sudah hendak ditebalkan atau ditipiskan, dan masih banyak lagi pertimbangan
yang rumit. Di sinilah keterampilan dan pengalaman sound engineer diperlukan.
Proses mixing bisa memakan waktu berminggu - minggu hingga berbulan-bulan
karena setiap track harus diolah dengan hati-hati dengan mempertimbangkan
aspek-aspek keindahan.
5). Setelah proses mixing selesai,
hasil rekaman maju ke tahap berikut yang disebut mastering. Di sini hasil
mixing master diperindah dan disesuaikan kualitas audionya untuk format, kaset,
CD, ataupun yang lainnya. Proses mastering memakan waktu 2 sampai 5 hari karena
dilakukan per lagu.
6). Sementara proses mixing dan
mastering berlangsung ,umumnya anggota band bisa melakukan sesi foto untuk
keperluan sampul atau kemasan album. Bisa dari foto simpel di depan kelurahan
atau menyewa fotografer terkenal. Proses ini biasanya cukup menyenangkan.
Desain untuk cover album mestinya sudah dirampungkan di tahap ini. Bersamaan
dengan selesainya mastering, siaplah master rekaman dibawa ke pabrik
penggandaan. Album rekaman pun akhirnya siap.
7) Sampai
di sini, tim marketing mulai beraksi menerapkan strategi promosi (yang biasanya
sudah dibahas sejak awal rekaman agar sesuai dengan tema dan sasaran pasar).
Kegiatan mereka antara lain menyiapkan materi promosi (termasuk pembuatan video
klip yang kelak akan kita bahas di tulisan terpisah), mengirimkannya ke media
massa, menjalin hubungan dengan jaringan distributor dan toko. Jika memang
dananya ada, bisa juga dilakukan acara launching. Dana untuk pemasaran dan
promosi biasanya sangat besar. Misalnya saja untuk memasang iklan di berbagai
media massa cetak dan elektronik, konser promo keliling berbagai kota.
Tanpa
dukungan marketing dan jaringan distribusi, tentu produk kita tidak akan sampai
ke penjual. Tanggung jawab tim marketing adalah memastikan agar semakin banyak
orang yang membeli album kita. Jika tidak ada yang beli, tentunya pengorbanan
waktu, pikiran, dan energi yang telah dicurahkan dalam menghasilkan album rekaman
akan jadi tidak berarti.
8). Akhirnya, setelah berjuang sekian
lama, siap sudah musik kita beredar di jagat pasar musik Indonesia. Diterima
atau tidaknya oleh pendengar itu soal lain lagi. Terlebih bagi grup atau
penyanyi baru. Namun jika kualitas produk kita bagus dan penerapan strategi
marketing-nya tepat, peluang album ini dibeli tentu akan lebih besar.
Bila album
sukses secara komersial, tentu ini menjadi kabar baik. Bagi perusahaan rekaman,
keuntungan ini menjamin perusahaan tetap berdiri dan bisa terus menggarap
album-album berikut. Bagi seniman, haknya mendapat nafkah dari bermain musik
pun terpenuhi. Hal ini dapat mendorongnya terus berkarya. Namun bila angka
penjualan album minim, maka kerugianlah yang didapat produser dan seniman. Yang
lebih menyedihkan adalah bila kecilnya angka penjualan ini bukan disebabkan
tidak adanya pembeli, tapi karena pembajakan. Jika kabar buruk seperti ini yang
terus terjadi, maka tidak mustahil sang produser enggan berproduksi lagi dan
seniman pun kehilangan salah satu sumber periuk nasinya. Pada kasus yang
ekstrem, sebuah grup yang karya2nya begitu hebat dan melegenda bisa mogok tak
mau lagi membuat album rekaman komersial.
Begitulah
sekilah proses panjang serta perjuangan dalam menghasilkan sebuah karya rekam
musik. Semoga membantu membuka wawasan kita dan apresiasi kita kepada para
seniman, khususnya seniman musik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar